Meski basah dibagian-bagian bajuku, namun tidak terlalu kuyub. Hanya bagian-bagian tertentu saja dari tubuhku.
Sebenarnya sudah dua malam ini ada satu anak laki-laki mencoba berbaik hati untuk menjemputku dari pulang kerja. Tapi dari kemarin hingga sekarang, Tuhan belum mengizinkan dia menjemputku. Seseorang yang tiba-tiba ada di kontak bbm ku, yang selalu aku abaikan setiap sapaannya selama setahun terakhir ini. Entah kenapa juga aku masih menyimpan kontaknya. Bukan malah menghapusnya, atau apapun itu untuk tidak lagi menjawab semua sapaannya. Sebenarnya bukan tak mau, tapi aku malu. Usianya terlalu muda untuk mencoba lebih dekat dengan aku yang perbedaan usianya jauh berbeda 7 tahun dari aku.
Dua kali panggilan masuk di ponselku dari nomor yang tidak pernah aku simpan itu aku biarkan terus berdering tanpa menerimanya. Dan aku tahu siapa itu. Husni, nama pemuda yang aku maksud. Jebolan pesantren ternama di kota dodol sana, juga seorang anak band. Pikirku, " kenapa harus anak band lagi Tuhan...."
Panggilan ketiga aku mencoba mengangkatnya, "Assalamu'alaikum, teteh dimana?" suara disebrang sana sedikit berteriak seolah tak ingin kalah oleh suara hujan deras yang mengguyur kota kami.
"Wa'alaikumsalam...kamu pulang aja, aku sebentar lagi nyampe, lagi diangkot." jawabku memakai bahasa sunda tentunya.
"Katanya mau nungguin dijemput saya." lanjutnya
"Iya maaf, tadi langsung naek aja, soalnya hujannya lama brentinya." jawabku mencari-cari alasan tepat agak tidak terkesan menolaknya secara kasar.
"Ya udah hati-hati ya teh, kalo udah sampe bbm ya." katanya mencoba membuatku aman dengan perhatian darinya.
"Iya, makasih." jawabku singkat
"Assalamu'alaikum..." ucapnya menutup dialog
"Wa'alaikumsalam..." jawabku dan memandang layar ponselku menunggu Husni yang menutupnya.
Sekarang Husni menunggu kabar bbm dariku. Aku sedikit kesal lagi, karena privasiku harus sedikit terganggu. Meski begitu, aku tetap harus membalas chatnya. Gak sopan kalau tidak aku balas lagi. Dia sudah cukup berjuang untuk mendapatkan sedikit saja perhatianku. Kenapa aku tidak bisa membalasnya juga dengan hanya membalas chatnya yang sebelumnya sering aku jawab menggantung.
"Jangan anak band lagi Tuhan...jangan..." pintaku dalam hati. Sudah cukup bagaimana aku merasakan bagaimana hubungan yang pernah aku alami bersama mereka para anak-anak band. Tak pernah ada yang berhasil. Semuanya berakhir di dapur rekaman tanpa menoleh lagi padaku. Entah karena terlalu sibuk menjadi artis, atau memang ketenaran membuat mereka berubah menjadi oranglain. Meski terkadang mereka datang di saat yang tidak tepat. Ya...datang lagi saat aku tengah dekat dengan yang lain.
Kopi yang kubiarkan mendingin tinggal setengah gelas malas aku minum lagi. Berbaring malas di kasur palembang yang sudah mulai lapuk dan sedikit berbau. Ditemani lagu-lagu di radio lokal yang sengaja aku nyalakan agar malamku tak terlalu sepi. Mata lelahkupun mulai terpejam sejenak terdengar lagu vetty vera mendayu-dayu menggodaku terlelap dalam dinginnya malam. "...gerimis malam ini kelabunya cintaku...kau memilih dirinya sebagai teman hidupmu...."
Kopi yang kubiarkan mendingin tinggal setengah gelas malas aku minum lagi. Berbaring malas di kasur palembang yang sudah mulai lapuk dan sedikit berbau. Ditemani lagu-lagu di radio lokal yang sengaja aku nyalakan agar malamku tak terlalu sepi. Mata lelahkupun mulai terpejam sejenak terdengar lagu vetty vera mendayu-dayu menggodaku terlelap dalam dinginnya malam. "...gerimis malam ini kelabunya cintaku...kau memilih dirinya sebagai teman hidupmu...."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar